Laman

Wednesday, 3 February 2016

BlackBerry Tidak Izinkan Penggunanya Melakukan Root di Perangkat Priv


       Rooting adalah hal yang tidak asing bagi para pengguna perangkat Android. Dengan melakukan root, para pengguna bebas melakukan modifikasi pada sistem smartphone yang mereka miliki. Bahkan ada beberapa produsen smartphone yang terang-terangan mengizinkan perangkatnya untuk di-root.




Namun hal ini tidak berlaku bagi perangkat Android dari BlackBerry, Priv. Sebagaimana yang diberitakan oleh Ubergizmo, Rabu (3/2/2016), disebutkan bahwa pada perangkat BlackBerry Priv sangat tidak dianjurkan untuk di-root. Seperti yang kita ketahui bahwa BlackBerry ini handal soal keamanan dan privasi.

Di blog resmi BlackBerry yang ditulis oleh Alex Manea, Kepala Keamanan Perangkat BlackBerry, menjelaskan apa itu root dan dampaknya. Dalam blog tersebut, Manea menjelaskan mengapa BlackBerry melindungi perangkatnya dari aksi rooting. Dia mengatakan bahwa bila pengguna melakukan root pada perangkat BlackBerry Priv, akan mempengaruhi dari stabilitas dari Priv, menghanguskan garansi, serta mempengaruhi pembaruan sistem operasi.

      Perangkat BlackBerry Priv dengan sistem operasi AndroidBahkan Manea menyebutkan bahwa dengan melakukan root pada perangkat Priv, berarti membuka celah keamanan pada perangkat tersebut. Dia mengatakan bahwa dengan melakukan root, perangkat akan menjadi rentan disusupi oleh malware, dan beberapa aplikasi dari BlackBerry akan menolak mentah-mentah perangkat Android dalam keadaan ter-root memasuki jaringan aplikasi tersebut.

      Ada cara yang dilakukan oleh pihak BlackBerry untuk menghindari perangkat Priv jadi sasaran root. Manea menjelaskan bahwa perangkat Priv akan melakukan pengecekan pada kernel dan SELinux saat dinyalakan. Selain itu juga memonitor tabel file sistem, serta memindai aplikasi yang memiliki akses tidak wajar.

      Pihak BlackBerry mengatakan hal ini dilakukan karena mereka ingin menjaga keamanan pada perangkat milik mereka, sesuai dengan sebutan mereka, yang terkenal dengan keamanan dan privasi dalam berkomunikasi. Meskipun tidak menggunakan sistem operasi buatan mereka, BlackBerry tetap ingin menjaga perangkat buatannya aman dari serangan malware dan virus.

Eropa Bangun “Jalan Tol Data Luar Angkasa” Menggunakan Teknologi Laser

       Eropa telah meluncurkan satelit pertama dari European Data Relay System (EDRS) dan telah diatur untuk meluncur dari aikonur cosmodrome di Kazakhstan dengan Laser node payload, yang bertujuan untuk melakukan transfer data pencitraan bumi dari satelit ke stasiun bumi, dengan kecepatan sekitar 90 kali lebih cepat dari koneksi internet Anda sekarang ini dan secara drastis mengurangi penundaan/delays.(Kredit: Airbus Denfece and Space SAS 2014)

      Seperti yang dikutip dari Motherboard, Michael Witting selaku manajer proyek untuk EDRS di European Space Agency mengatakan “Anda bisa membayangkan jika itu hampir 100 kali kecepatan koneksi internet yang normal di rumah, Anda dapat mengirimkan sejumlah fenomenal data dalam periode yang sangat singkat,”.

       Saat ini kebanyakan satelit pencitraan bumi berada di orbit yang rendah dari bumi dan mengirimkan data yang mereka kumpulkan ke stasiun yang ada di permukaan bumi. Tapi satelit hanya bisa melakukan kontak dengan stasiun yang ada di bumi ketika posisi mereka relevan, yang berarti ada perbedaan waktu selama 90 menit antara komunikasi dan slot waktu terbatas untuk mentransfer data.

       Sinyal EDRS-A akan diluncurkan pada satelit Eutelsat-9B ke orbit geostasioner, yang berada jauh dan tinggi sekitar 36.000KM, serta memiliki jarak pandang yang lebih luas terhadap planet ini. Witting mengatakan dengan jarak tersebut, satelit dapat mengirimkan data ke arah 50 persen dari bentuk bumi.(Kredit: ESA)

      Ini bisa sangat berguna untuk satelit dengan aplikasi yang terhalang oleh latency, seperti satelit observasi bumi yang digunakan untuk menginformasikan upaya bantuan bencana di permukaan bumi.

       “Apa pun dari bencana di laut, seperti tumpahan minyak, gempa bumi, tsunami, bencana alam seperti banjir dan sebagainya di mana ada pasukan darat untuk membantu sesegera mungkin, waktu adalah esensi,” kata Witting.

      European Space Agency telah bermitra pada proyek tersebut dengan perusahaan Perancis Airbus Defence and Space, yang akan mengoperasikan layanan. Airbus akan menawarkan transfer data berkecepatan tinggi sebagai layanan komersial, terutama dua pelanggan satelit ESA Sentinel-1 dan Sentinel-2 , yang keduanya melaksanakan tugas observasi Bumi.

      EDRS bekerja dengan mengumpulkan data dari satelit yang lebih rendah melalui optik (laser) Link dan kemudian memantul kembali ke stasiun yang ada di permukaan. Terminal laser dikembangkan oleh perusahaan Jerman, Tesat. Perusahaan tersebut adalah yang pertama dari jenisnya dan memiliki tingkat sedikit lebih tinggi dari link radio yang biasanya digunakan oleh satelit.

      EDRS-A telah meluncur akhir bulan Januari lalu dan diharapkan ajan memulai pelayanannya bagi pelanggan Sentinel pertama pada bulan Mei mendatang. Selain itu, satetelit kedua yang bernama EDRS-C direncanakan bakal meluncur di pertengahan tahun 2017 mendatang.

       Satelit kedua akan menambah kapasitas sistem, karena masing-masing hanya dapat relay data dari satu satelit lain pada suatu waktu, serta menambahkan cakupan geografis yang lebih besar dan bertindak sebagai redundansi jika salah satu satelit rusak atau mengalami pemadaman.